Loading...

Persijap Berbaju Diadora


Sponsor Apparel Dominasi MAP
Kompetisi Liga Super memberikan daya tarik tersendiri bagi sponsor, khususnya apparel. Sejak kompetisi Liga Indonesia digulirkan pada 1994 hingga kini, hampir tak pernah absen produk apparel menghiasi pertarungan antarklub di Indonesia.

Pada tahun pertama hingga ketiga, Adidas mendominasi lewat sponsor apparel resmi LI kepada semua klub. Mulai tahun keempat hal itu berubah karena klub dibebaskan mencari sponsor sendiri. Sayang kompetisi 1997/1998 terhenti karena krisis moneter. Sponsor apparel kembali muncul setelah Reebok menjadi sponsor resmi pada 1999.

Selanjutnya tahun 2000 hingga kini sponsor apparel selalu dibebaskan oleh PSSI. Kran itu pula yang dimanfaatkan klub-klub untuk berlomba bekerja sama dengan produk apparel.

Masuknya PT Mitra Adiperkasa (MAP) dengan membawa produk Lotto, Diadora, Reebok, hingga Puma membuatnya menguasai 80% pasar apparel klub di Indonesia. Bahkan seragam untuk wasit pun kini mereka kuasai.

Paling hanya Vilour yang berani melawan dominasi itu dengan mensponsori Persib. Musim lalu hanya Persipura dan Persiwa serta Persiba dan Pupuk Kaltim tak menggandeng sponsor apparel resmi. Tahun ini mereka pun terus diburu sponsor apparel.

Kondisi itu membuat MAP kini menguasai hampir semua klub-klub besar di Tanah Air, mulai dari Sriwijaya FC (Reebok), Persija (Diadora), hingga Arema (Diadora). Tahun lalu Singo Edan mencoba Puma, yang semuanya juga di bawah kendali MAP sebagai pemegang lisensi resmi produk-produk tersebut di Indonesia.

Arema didukung Diadora

“Memang kami sudah memiliki perjanjian dengan Diadora sebagai pengganti Puma untuk musim ini,” kata Satrija Budi Wibawa, mantan Ketua Harian Arema, saat memberikan penjelasan soal masa transisi (3/8) di Hotel Santika Malang. Sebelumnya, Puma selama dua setengah tahun menjadi sponsor apparel resmi bagi Singo Edan, terhitung sejak sekitar Januari 2007.

Persema Malang pada tahun pertama di liga profesional ikut didekati apparel Lotto. Persema pun mengakui jika perpindahan mereka dari sponsor apparel lokal yang mendukung mereka musim lalu, Vilour, ke Lotto didasari banyak hal. Namun, yang terutama tentu nilai nominal yang diberikan pabrikan apparel asal Italia itu, kini mencapai Rp 2 miliar.

Perbaikan juga dialami Persijap atas masuknya sponsor apparel ini. Maklum, musim-musim sebelumnya mereka hanya mendapatkan diskon atas pembelian seragam. Namun, kini mereka sudah digandeng Diadora.

“Ini prestasi yang luar biasa karena untuk pertama kalinya Persijap mengikat kontrak dengan sebuah apparel. Sebelumnya kami menggunakan apparel tertentu tanpa adanya ikatan kontrak. Hanya mendapat diskon saja karena menggunakan produk mereka,” kata Edy Sujatmiko, manajer Persijap.

Upaya Persijap merintis kerja sama dengan Diadora sesungguhnya sudah dilakukan sejak musim lalu. Bahkan Diadora berniat mengikat kontrak pada paruh kedua musim kompetisi. Namun, dengan berbagai pertimbangan akhirnya kontrak kerja sama dilakukan mulai awal musim ini.

Lain halnya dengan Persela. Laskar Joko Tingkir juga mendapat sponsor resmi apparel baru didapatkan pada pertengahan musim lalu dari Reebok. Selain bisa mengencangkan ikat pinggang keuangan klub, brand Reebok mampu mengangkat citra Persela.

“Bukan tanpa imbalan, meski hanya klub kelas menengah, kami punya ribuan pendukung. Selain itu jumlah siaran langsung serta siaran tunda kami di televisi juga tergolong banyak sehingga Reebok merasa tidak rugi memberikan dukungan kepada kami,” kata Yuhronur Efendi, bendahara Persela. (Ary J*)

SPONSOR APPAREL
—————————————
Sriwijaya FC Reebok (barter barang)
Persija Diadora (barter barang)
Persib Vilour (Rp 100 juta*)
Persijap Diadora (barter barang)
Pelita Jaya Diadora (barter barang)
Persik Lotto (barter barang)
Persebaya Diadora (barter barang)
PSM Specs (barter barang)
Persema Lotto (barter barang)
Persela Reebok (barter barang)
*; musim lalu
Persijap 4047327629308475459

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Follow Us


History

Official Jersey

Archive