Loading...

Paelan, Kiper Masa Lalu Persijap


Laga Tandang, Diangkut Mobil Tahanan

WAJAH Paelan masih tampak segar. Tubuhnya juga bugar, meski usianya sudah 71 tahun. Keikutsertaannya di senam sehat rutin di kabupaten, membuatnya tampak lebih muda dari usianya.

Ia adalah salah satu bekas pemain Persijap yang saat ini masih bisa menyaksikan kiprah manis Persijap di Djarum Indonesia Super League dan Copa Dji Sam Soe.

Paelan adalah bekas kiper Persijap. Kiprahnya di sepak bola Jepara dimulai pada 1955, atau setahun setelah Persijap berdiri. Pria yang lahir di Bangsri ini bermain sepak bola di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai tenaga sipil di Polsek Bangsri. Ia mengawali sebagai pemain di klub Persatuan Olahraga Bangsri (Purba) yang sekarang berganti nama menjadi Persiba.

Pelan bertutur tentang berbagai perbedaan kondisi masa lalu dan sekarang. Misalnya dari sisi kesejahteraan pemain. Kalau pemain sekarang diikat dalam kontrak ratusan juta rupiah untuk satu musim kompetisi, maka pemain dulu hanya berbekal semangat membela klub daerah.

“Dulu setiap kali bermain kami hanya mendapatkan uang lelah sebesar Rp 100, “ ujar Paelan terkekeh. Ia melanjutkan, ‘’Kami tidak memikirkan besarnya honor. Bisa main dan membela Persijap, itu sudah merupakan suatu kebanggaan dan kehormatan’’. Dari pengabdiannya sebagai pemain, sejak 1963 ia diangkat menjadi PNS di Pemkab Jepara.

Mobil tahanan

Kompetisi antarklub waktu itu tak seramai sekarang. Mulai 1972 baru ada putaran kompetisi tingkat eks-Karesidenan Pati, dan setahun berikutnya Persijap menjuarai Piala Makutarama di Salatiga mengalahkan Persipa Pati di partai final. Saat itu pemain Persijap Kamal Djunaidi meninggal tersambar petir di lapangan, dan Paelan adalah salah satu skuad Merah-merah.

Karena tidak ada pasokan dana dari APBD, klub diurus secara mandiri, bahkan urunan secara swadaya. Untuk menghimpun dana, maka pada waktu pertandingan penonton diedari sumbangan sukarela dengan ider kotak. Membeli kaus tim saja sudah persoalan besar, apalagi akomodasi ke luar kota saat bertanding di laga tandang.

‘’Untuk bertanding di luar kota, pemain diangkut dengan mobil tahanan milik kepolisian,’’ lanjut suami Siti Zuhroh ini.

Alun-alun Jepara, yang kini ramai digunakan untuk bermain bola anak-anak, dulunya sebagai tempat latihan resmi, bahkan untuk pertandingan kandang Persijap, sebelum menggunakan Stadion Kamal Djunaidi.

Bakat tak jarang menitis pada anaknya. Demikian pula yang dialami Paelan, keahliannya menitis pada putranya, Siswadi Gancis.

Putra nomor duanya ini memiliki bakat besar sebagai penjaga gawang, sehingga dipercaya memperkuat PSSI Garuda pada 1980-an. Setelahnya, Gancis menjadi pelatih kiper PSIM Yogyakarta. Gancis kini bekerja di salah satu perusahaan perbankan di Kota Gudeg.

Paelan pensiun sebagai PNS pada 1994. Posisi terakhirnya di Mawil Hansip Pemkab Jepara. Setelah tidak aktif sebagai pemain, Paelan masih sempat dipercaya masuk sebagai pengurus Persijap, yakni di Komisi Wasit. Setelah era Pelan, penjaga gawang Persijap diteruskan oleh Che Sing dari etnis China, lalu Marno dan kemudian T Koes Harjono yang kini menjadi kepala Bappeda Kabupaten Jepara.

Nama-nama kiper Persijap lainnya yang dari putra lokal adalah Jarwo, Nurjamil, Arifyanto, hingga era sekarang Danang Wihatmoko yang masih ‘’berkibar’’ di ISL.

Paelan bangga Laskar Kalinyamat kini makin maju. ‘’Kalau bisa Persijap punya andil mengangkat pesona daerah,’’ imbuhnya. (54)
Profile 3600823680034649960

Posting Komentar

emo-but-icon

Beranda item

Follow Us


History

Official Jersey

Archive

Follow by Email